Sudah berabad-abad lamanya, bangsa-bangsa Eropa berlayar mencari rempah-rempah ke Nusantara untuk membangkitkan kembali perekonomian mereka yang sempat mengalami kemunduran. Ekspedisi dagang dan eksplorasi sumber daya alam dari berbagai kepulauan di Indonesia menjadi kunci pemulihan tersebut. Sejak tahun 1300 Masehi, bukan hanya bangsa Eropa, tetapi juga para pedagang Arab mulai datang untuk mengeksplorasi wilayah yang kaya akan komoditas alam dan potensi konsumen yang menguntungkan.
Penyebaran Islam di Pattani
Kedatangan bangsa Arab pada masa itu tidak hanya membawa misi dagang, tetapi juga berperan penting dalam menyebarluaskan ajaran Islam yang kemudian diterima dan diterapkan oleh masyarakat lokal. Pengaruh Islam ini bahkan meluas hingga ke wilayah Asia Tenggara lainnya, seperti Thailand bagian Selatan. Di kota Pattani, misalnya, terdapat sebuah komunitas muslim etnis Melayu yang hidup dan berkembang di tengah dominasi mayoritas penduduk beragama Buddha Theravada. Dalam lingkungan tersebut, mereka tetap konsisten mempraktikkan prinsip-prinsip ekonomi syariah sebagai sebuah konsep ekonomi modern yang relevan dengan zaman sekarang.
Salah satu bentuk adaptasi inklusif dari ekonomi syariah yang diterapkan adalah pengembangan wakaf yang disinergikan dengan proyek komersial dalam satu kawasan terpadu yang luas. Di atas lahan wakaf seluas 200 hektar, dibangunlah Asean Mall Pattani, yang terintegrasi dengan berbagai fasilitas pendukung di sektor pariwisata, perdagangan, dan spiritual. Kawasan ini dilengkapi dengan masjid, perumahan, dan ruang publik yang menciptakan lingkungan yang harmonis dan multifungsi.
Kolaborasi unik antara nilai-nilai ekonomi Islam dan kepentingan komersial ini diinisiasi oleh Dato Haji Jamal Mohd Amin, selaku Presiden Uniti Asia Group. Lokasinya yang strategis, berada di Thailand Selatan—menjadi penghubung antara Malaysia dan Indonesia—menjadikannya bagian penting dari jalur perdagangan Selat Malaka. Hal ini tentu bukan suatu kebetulan, melainkan pertimbangan matang yang mendukung potensi ekonomi kawasan tersebut.
Fakta menarik Pattani Asean Mall
Sebagai mall berbasis wakaf pertama di dunia, Pattani Asean Mall memiliki peluang yang sangat besar untuk berkembang. Didukung oleh fakta bahwa 80% populasi setempat merupakan muslim, konsep wakaf semakin populer sebagai salah satu metode untuk mengatasi tantangan ekonomi. Selain itu, masyarakat setempat yang umumnya menguasai dua bahasa, yaitu Thailand dan Melayu, menjadi nilai tambah dalam menarik minat wisatawan serta investor, baik dari dalam maupun luar negeri.
Untuk memperluas jaringan dan memanfaatkan keterampilan masyarakat serta inovasi bisnis yang ada, Asean Mall Pattani menggalang strategi pemasaran melalui event tahunan bernama Asean Halal Expo. Acara ini memamerkan beragam produk halal dari berbagai negara, termasuk Indonesia, sehingga tidak hanya memperkuat positioning mall sebagai pusat halal, tetapi juga meningkatkan dinamika perdagangan dan kerja sama internasional.
Keberadaan mall dengan model bisnis berbasis wakaf ini memperkenalkan perspektif baru dalam dunia perwakafan—mulai dari model pengembangan, tata kelola, hingga dampak sosial yang dihasilkan. Inovasi ini turut memperkaya wacana mengenai penerapan wakaf di era modern melalui kolaborasi dan integritas, membuktikan bahwa wakaf tidak hanya terbatas pada aspek tradisional dan religius, tetapi juga dapat menjadi instrumen ekonomi yang berdaya saing dan berkelanjutan.
Penulis : Tobroni
Baca Juga
- BWI dan ITS Perkuat Kolaborasi Wakaf Produktif Melalui Waqf Investor Forum
- Badan Wakaf Indonesia Jaring Potensi Proyek Wakaf Produktif Melalui Call for Projects GLOW 2026
- Badan Wakaf Indonesia Gelar 1st AWARE 2026, Dorong Pengembangan Wakaf Produktif Berbasis Coaching Riset
- The Hagia Sophia Waqf: A Legacy of Islamic Civilisation Preserved Through the Ages
- The Indonesian Waqf Board Distributes Warm Clothes to Palestinian Children for the Winter


